apa sih yang dinamakan homeostatis?

 

Banyak sekali gangguan-gangguan yang dapat mengancam keadaan sistem tubuh hewan. Sistem tubuh hewan memiliki organ-organ yang berfungsi untuk mempertahankan keadaan sistem tubuh itu sendiri. Keadaan sistem tubuh itu diatur oleh homeostasis dalam tubuh. Mekanisme homeostasis berkaitan erat dengan keadaan cairan dalam tubuh, baik dalam hal pengeluaran maupun asupan cairan tubuh. Hewan sangat beruntung karena memiliki organ-organ penunjang dalam mempertahankan keadaan tubuh tersebut, karena apabila hal ini tidak terdapat dalam sistem tubuh maka semua kegiatan hidup tidak akan berjalan dengan normal. Akibat dari tidak berfungsinya homeostasis tubuh, hewan dapat mengalami sakit atau bahkan menuju kematian.

Di Amerika Serikat konsep konstansi lingkungan (milieu) internal menarik perhatian Lawrence J. Henderson (1878-1942). Kemudian Walter Bradford Cannon (1871-1945) dengan tulisan-tulisannya membantu menyebarluaskan gagasan mengenai mekanisme pengaturan fisiologis. Cannon memperkenalkan istilah homeostasis yaitu suatu kondisi yang mempertahankan konstansi lingkungan internal. Istilah ini tidak dimaksudkan sebagai suatu keadaan lingkungan internal tubuh yang tetap dan tidak berubah, melainkan suatu kondisi yang relatif konstan, terkoordinasi dengan baik dan stabil. Homeostasis menjadi prinsip yang mengarahkan riset di bidang fisiologi. Fisiologi sendiri berasal dari 2 kata yaitu fisio artinya fungsi dan logos berarti ilmu, yaitu ilmu yang mempelajari fungsi struktur anatomi serta proses-proses biologi yang memungkinkan kehidupan itu ada dan berfungsi.

Jadi bagaimana si pengertian dan fungsi dari homeostasis,faktor-faktor yang mempengaruhi homeostasis,mekanisme homeostasis dan macam-macam umpan balik homeostasis akan kita bahas.

Pengertian dan Fungsi Homeostasis 

Homeostasis berasal dari bahasa yunani yaitu, homeo yang berarti sama dan stasis yang berarti mempertahankan keadaan. Homeostasis merupakan keadaan relatif konstan di dalam lingkungan internal tubuh. Semua proses yang terjadi dalam organisme hidup untuk mempertahankan lingkungan internal, dalam kondisi tertentu agar tercipta kondisi yang optimal bagi kehidupan organisme yang bersangkutan. Homeostasis adalah mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan yang dinamis di dalam tubuh hewan yang konstan. Dalam homeostasis keadaan konstan terdapat dua jenis, yaitu yang pertama adalah sistem tertutup yakni sebuah keseimbangan statis yang dimana keadaan dalam tubuh tidak berubah. Sedangkan yang kedua adalah sistem terbuka, yaitu kesetimbangan dinamis dimana keadaan dalam tubuh yang konstan, sedangkan sistem terus berubah (Lauralee, 2001).

Homeostasis dipertahankan secara alami oleh mekanisme adaptasi fisiologis. Adaptasi fisiologis merupakan usaha organisme untuk memelihara lingkungan internalnya dalam batas-batas toleransi tertentu sehingga proses-proses biologis dapat berfungsi dengan optimal. Kemampuan adaptif ini adalah bentuk dinamik dari equilibrium lingkungan internal tubuh. Lingkungan internal secara konstan berubah, dan mekanisme adaptif tubuh secara kontinyu berfungsi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan ini dan untuk mempertahankan homeostasis. Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol fungsi tubuh, sebagian besar mekanisme ini dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin. Berikut merupakan gambar bagan dari homeostasis :

Gambar 1. Bagan Homeostasis

 

Dalam menyelenggarakan homeostasis ini tubuh harus senantiasa memantau adanya perubahan-perubahan nilai berbagai parameter, lalu mengkoordinasikan respons yang sesuai sehingga perubahan yang terjadi dapat diredam. Untuk itu sel-sel tubuh harus mampu berkomunikasi satu dengan lainnya. Komunikasi antar sel ini merupakan media yang menopang pengendalian fungsi sel atau organ tubuh. Pengendalian yang paling sederhana terjadi secara local (intrinsik), yaitu yang dilakukan dengan komunikasi antara sel yang berdekatan. Pengendalian ekstrinsik (ekstrinsik) lebih kompleks dan dimungkinkan melalui refleks yang melibatkan sistem saraf (lengkung refleks) maupun sistem endokrin (pengaturan umpan balik).

Gambar 2. Pengendalian Jarak Jauh Melalui Sistem Endokrin dan Syarat

Homeostasis memiliki beberapa fungsi, yaitu Menstabilkan cairan di sekitar sel-sel organisme multisel atau cairan ekstrasel (CES), untuk kelangsungan hidup sel, memungkinkan organisme beradaptasi pada lingkungan luar yang mempunyai jumlah dan habitat yang lebih luas, menyediakan keadaan dalam (lingkungan dinamis dalam badan organisme) yang stabil supaya sel-sel dapat menjalankan hidup dengan efisien, memungkinkan kadar metabolisme diatur secara efisien pada saat tertentu, dan yang terakhir memungkinkan enzim-enzim menjalankan fungsinya dengan optimum. 

 

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Homeostasis

Kemampuan homeostasis suatu organisme dipengaruhi beberapa hal diantaranya adalah :

1. Variasi diurnal

Suhu tubuh akan bervariasi pada siang dan malam hari. Suhu terendah manusia yang tidur pada malam hari dan bangun sepanjang siang terjadi pada awal pagi dan tertinggi pada awal malam. Pada hasil pengamatan, hal ini dibuktikan dengan tingginya temperatur tubuh sebelum tidur malam (sekitar pukul 23.30 wib) yaitu 36,6˚C. Temperatur tubuh pada kegiatan yang lain rata rata berada di bawah temperatur tersebut.

2. Kerja jasmani / aktivitas fisik

     Setelah melakukan latihan fisik atau kerja jasmani suhu tubuh akan naik terkait dengan kerja yang dilakukan oleh otot rangka. Setelah melakukan latihan berat, suhu tubuh dapat mencapai 40 ºC. Pada hasil pengamatan, terlihat bahwa suhu tubuh setelah melakukan olahraga tergolong tinggi dibandingkan setelah melakukan kegiatan lain, yaitu sebesar 36,5˚C.

3. Jenis kelamin

Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih tinggi daripada wanita. Suhu tubuh wanita dipengaruhi daur haid. Pada saat ovulasi, suhu tubuh wanita pada pagi hari saat bangun meningkat 0,3 – 0,5 ºC.

4. Lingkungan 

Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Udara lingkungan yang lembab juga akan meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan penguapan keringat, sehingga panas tertahan di dalam tubuh. Pada hasil pengamatan didapatkan bahwa suhu tubuh setelah aktivitas di malam hari lebih tinggi daripada aktivitas yang dilakukan malam hari.

 

Mekanisme Homeostasis

      Perubahan kondisi lingkungan internal dapat timbul karena 2 hal, yaitu adanya perubahan aktivitas sel tubuh dan perubahan lingkungan eksternal yang berlangsung terus- menerus. Untuk menyelenggarakan seluruh aktivitas sel dalam tubuhnya, hewan selalu memerlukan pasokan berbagai bahan dari lingkungan luar secara konstan, misalnya oksigen, nutrien dan garam. Sementara itu, aktivitas sel juga menghasilkan bermacam – macam hasil sekresi sel yang bermanfaat dan berbagai zat sisa, yang dialirkan ke lingkungan internal yaitu cairan ekstraseluler (CES). Apabila aktivitas sel berubah pengambilan zat dari lingkungan internal dan pengeluaran berbagai zat dari dalam sel ke lingkungan internal juga berubah. Perubahan aktivitas sel semacam itu akan mengubah keadaan lingkungan internal. Perubahan lingkungan internal yang ditimbulkan oleh sebab manapun (penyebab pertama atau kedua) harus selalu dikendalikan agar kondisi homeostasis selalu terjaga (Minarma, 2004).

Sistem Umpan Balik

Mekanisme pengendalian kondisi homeostasis pada hewan berlangsung melalui sistem sistem umpan balik. Ada 2 macam sistem umpan balik, yaitu umpan balik positif dan negatif. Sistem umpan balik yang berfungsi dalam pengendalian kondisi homeostasis pada tubuh hewan adalah sistem umpan balik negatif. 

Sistem umpan balik dapat didefinisikan sebagai perubahan suatu variabel yang dilawan oleh tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut dalam keadaan semula. Didalam proses umpan balik, informasi indrawi tentang variabel suhu atau pH misalnya, digunakan untuk mengendalikan proses dalam sel dan jaringan serta organ yang berpengaruh terhadap level variabel tersebut. Mekanisme homeostasis yang utama adalah diatur oleh hipotalamus. Sistem umpan balik ada dua macam, yaitu sistem umpan balik positif dan sistem umpan balik negatif. Tetapi sistem umpan balik yang berfungsi dalam pengendalian kondisi homeostasis pada tubuh hewan adalah adalah sistem balik negatif. Mengapa yang digunakan dalam proses pengendalian kondisi homeostasis, hanya menggunakan umpan balik negatif, karena sistem umpan balik negatif didefinisikan sebagai perubahan suatu variabel yang dilawan oleh tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut ke keadaan semula. Juga perlu diketahui umpan balik negatif dalam pengendalian homeostasis sesungguhnya merupakan keseimbangan antara input dan output. (Elaine M. 1994)

Terdapat dua macam pengaturan umpan balik dalam homeostasis, yaitu :

  1.  Umpan balik negatif (negative feedback)

Sebagai gambaran tentang umpan balik negatif adalah dengan mengamati bekerjanya thermostat yang dipasang dalam akuarium untuk menjaga agar suhu air dalam akuarium tersebut berada pada suhu yang diinginkan. Bilamana suhu air medium lebih rendah dari suhu yang diinginkan, sensor memberikan informasi agar pemanas memanaskan medium. Jadi pengaturan suhu tubuh membutuhkan “thermostat” yang informasinya harus diberikan pada sistem pengendali suhu. Jika informasi yang sampai pada sistem pengendali suhu adalah bahwa suhu tubuh lebih rendah dari yang semestinya, maka sistem pengendali akan meningkatkan suhu tubuh sampai kondisi semestinya dan pemanasan berhenti sampai terjadinya penurunan suhu lebih rendah dari yang semestinya.

Pada mamalia yang senantiasa mempertahankan suhu tubuh konstan, meningkatnya suhu tubuh menghasilkan respon yang mengembalikan suhu tubuh sebagaimana kondisi yang semestinya. Jadi, umpan balik negatif mengarahkan pada stabilitas sistem fisiologis. Hal ini merupakan kebalikan dari sistem umpan balik positif dimana perubahan awal suatu variabel menghasilkan perubahan lebih lanjut.

Sebagai contoh, peristiwa yang terjadi pada burung dan mamalia pada waktu mempertahankan suhu tubuhnya supaya tetap konstan. Peningkatan suhu tubuh sebesar 0,5oC akan mendorong timbulnya tanggapan yang akan mengembalikan suhu tubuh ke suhu awal, yaitu suhu seharusnya. Pada mamalia, suhu seharusnya adalah 37o C dengan demikian, sistem umpan balik negatif pada contoh diatas akan selalu membawa sistem fisiologis kepada suhu tubuh 37oC.

Gambar 3. Umpan balik negatif

2.                  Umpan Balik Positif (Positive Feedback)

Peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik positif berlawan dengan peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik negatif. Pada sistem umpan balik positif, perubahan awal suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang semakin besar, misalnya proses pembekuan darah. proses pembekuan darah sebenarnya bekerja melalui mekanisme sistem umpan balik positif, yang bertujuan untuk menghentikan pendarahan. Namun, hasil dari proses tersebut selanjutnya bermakna sangat penting untuk mempertahankan volume darah yang bersirkulasi agar tetap konstan. (Wiwi I. 2006)

Mekanisme umpan balik positif tidak terlibat dalam proses menjaga kondisi homeostasis, tetapi terlibat dalam penyelenggaraan fungsi fisiologis tertentu (proses pembekuan darah dan fungsi sel saraf). Mekanisme umpan balik positif dalam mengendalikan fungsi fisiologis pada hewan dapat berbahaya.Misalnya, suhu tubuh mamalia meningkat, jika gangguan awal ini kemudian mengalami umpan balik positif maka hasilnya adalah peningkatan suhu tubuh lebih lanjut yang tentunya berbahaya bagi hewan tersebut. Contoh lain umpan balik positif adalah pada fungsi saraf. Jika terdapat rangsang pada sel syaraf akan menyebabkan perubahan permeabilitas selaput yang memungkinkan adanya aliran ion sodium (Na+) masuk ke dalam neuron. Aliran masuk ion Na+ pada fase awal terjadinya potensial aksi menghasilkan respon depolarisasi yang menyebabkan aliran masuk ion Na+ lebih lanjut.

Gambar 4. Umpan balik positif

               

Gambar 5. Osmoregulasi pada ikan

Ikan laut yang hipoosmotik menghadapi masalah kehilangan air tubuh, dan sekaligus menghadapi masalah masuknya zat-zat terlarut ke dalam tubuhnya karena gradien konsentrasi. Permukaan tubuh, terutama permukaan insangnya agak permeabel terhadap air. Air banyak hilang melalui insang, urin, dan feses. Untuk mengganti air yang hilang, ikan air laut minum air laut.

Konsentrasi garam air tawar tergantung pada asal air tersebut, tetapi kadar tersebut selalu sangat rendah. Jadi lingkungan luar sangat hipoosmotik terhadap cairan tubuh internal dari hewan air tawar, dan hewan ini harus menghadapi kecenderungan air untuk berdifusi kedalam tubuh, terutama ke bagian yang berlapis tipis, seperti insang. Garam cenderung berdifusi keluar dan cairan tubuh internal kehilangan garam melalui ekskresi.

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular Posts