LAPORAN PRAKTIKUM METODE SAMPLING HEWAN TANAH
LAPORAN PRAKTIKUM
METODE SAMPLING HEWAN TANAH
Dosen Pengajar :
Beata Ratnawati. ST, M.Si.
Asisten Dosen :
Elva Febiyanti Faidah Warohmah, A.Md.
Hanum Hydena Hadianti, A.Md.
Oleh :
Kelompok 2/LNK A1
Afdan Firas Maula Pasya (J3M119006)
Bintang Brahmasta Wisnu W (J3M119032)
Hana Prasawardani (J3M119061)
Joy Jehezkiel Kolanus (J3M119075)
Rashika Aliva Simpatiko (J3M219185)
Susi Susanti (J3M119126)
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2021
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem lahan yang mana keberadaannya dipengaruhi oleh kondisi lahan tersebut. Ada fauna tanah yang memerlukan kondisi iklim mikro tertentu ada juga fauna tanah yang dapat hidup pada kondisi ekstrim tertentu. Suhu tanah merupakan salah satu faktor fisika tanah yang sangat menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah. Dengan demikian suhu tanah akan menentukan tingkat dekomposisi mineral organik tanah.
Fauna tanah sensitif terhadap perubahan kondisi lahan. Dalam suatu lahan memiliki fauna yang beragam. Keberagaman fauna tanah merupakan salah satu bentuk diversitas alfa yang sangat berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalamnya (Nurrohman E et al,2015). Oleh karena itu fauna tanah bisa digunakan sebagai bioindikator dalam penentuan kualitas lahan. Untuk mengetahui apa saja fauna tanah yang ada di sekitar lingkungan rumah maka dilakukanlah praktikum ini.
Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu melihat komposisi fauna tanah pada suatu kondisi lingkungan, mengamati kehadiran fauna tanah dan faktor pembatasnya, mengamati peran fauna tanah bagi lingkungan serta mengevaluasi fauna tanah sebagai bioindikator bagi lingkungan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak dan ember plastik, cangkul, sekop kecil, kaca pembesar dan botol botol kecil tempat menyimpan sampel fauna tanah. Bahan yang digunakan adalah tanah dari lingkungan yang terbuka.
Metode Kerja
Memilih tempat yang akan diamati fauna tanahnya
Mengukur luasan tanah 30 30 cm2 dan 60 60 cm2
Menggali luasan tanah 30 30 cm2 sedalam 15 cm dan setiap galian tanah 5 cm dipisah secara berurutan
Menggali luasan tanah 60 60 cm2 sedalam 30 cm dan setiap galian tanah 10 cm dipisah secara berurutan
Mengamati setiap lapisan tanah terhadap fauna yang dijumpai secara makroskopis
Mengoleksi dan mengumpulkan setiap jenis fauna tanah untuk keperluan identifikasi dan mengukur kelimpahannya pada setiap tempat yang berbeda luasan
Mencatat dan mengkompilasi hasil penemuan dalam suatu matriks yang menghubungkan antara keberadaan setiap jenis fauna dengan kelimpahan maupun keberadaannya pada setiap tanah
Mengamati kondisi fisik dan komposisi bahan organik dari tanah yang digunakan
Mencari tahu peran masing masing fauna tanah yang dijumpai
Membandingkan hasil pengamatan pada luasan 30 30 cm2 dan 60 × 60 cm2
Analisis Data
Kepadatan = Jumlah Individu Suatu JenisJumlah Unit Contoh
Kepadatan Relatif = Kepadatan Suatu JenisKepadatan Semua Jenis×100%
Frekuensi Kehadiran = Jumlah Unit Contoh ditermukan Suatu JenisJumlah Semua Unit Contoh×100%
Berdasarkan frekuensi kehadiran, maka dapat ditentukan konstansi hewan tersebut pada habitat yang diamati, yaitu: a.) Aksidental: jika FK 0-25%.
b.) Assesori: jika FK 25-50%.
c.) Konstan: jika FK 50-75%.
d.) Absolut: jika FK 75-100%
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Afdan ( 60 60 cm2 )
Tabel 2. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Afdan ( 30 30 cm2 )
Tabel 3. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Bintang ( 60 60 cm2 )
Tabel 4. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Bintang ( 30 30 cm2 )
Tabel 5. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Hana ( 15 15 cm2 )
Tabel 6. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Hana ( 30 × 30 cm2 )
Tabel 7. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Joy ( 60 60 cm2 )
Tabel 8. Hasil Pengamatan Hewan Tanah Joy ( 30 30 cm2 )
Tabel 2. Hasil Pengamatan Hewan Tanah pada tanah dengan Luasan 15 x 15 cm
Tabel 3. Hasil Pengamatan Hewan Tanah pada (Jenis Tanah) dengan Luasan 30 x 30 cm
Tabel 3. Hasil Pengamatan Hewan Tanah pada (Jenis Tanah) dengan Luasan 60 x 60 cm
Perhitungan :
Pada Petak 30 × 30 cm2 | Jumlah unit = 12 | Jumlah Individu Cacing Tanah = 30
Kepadatan Cacing Tanah = Jumlah Individu Suatu JenisJumlah Unit Contoh
= 3012= 2,5
Kepadatan Relatif Cacing Tanah = Kepadatan Suatu JenisKepadatan Semua Jenis×100%
= 2,53,75×100%= 66.67%
Frekuensi Kehadiran Cacing Tanah = Jumlah Unit Contoh ditermukan Suatu JenisJumlah Semua Unit Contoh×100%
= 512×100%= 41,67
2.2 Pembahasan
Hasil yang diperoleh pada luasan lahan 15 × 15 cm2 terdapat 3 unit lahan dan jenis hewan yang terdapat di lahan ini adalah Sumpil (Subulina octona) berjumlah 3 dengan niai kepadatan 1, kepadatan relatif 21,41% dan frekuensi kehadiran 66,67%, Jenis hewan Lintah (Hirudinea) berjumlah 5 dengan nilai kepadatan 1,67, kepadatan relatif 35,76% dan frekuensi kehadiran 100%, Jenis hewan Semut Hitam (Monomorium minimum) berjumlah 6 dengan nilai kepadatan 2, kepadatan relatif 42,83% dan frekuensi kehadiran 100%. Hasil yang diperoleh pada luasan lahan 30 × 30 cm2 terdapat 12 unit lahan dan jenis hewan yang terdapat di lahan ini adalah Cacing Tanah (Lumbricana) berjumlah 30 dengan nilai kepadatan 2,5, kepadatan relatif 66,67% dan frekuensi kehadiran 41,67%, Jenis hewan Semut Hitam (Monomorium minimum) berjumlah 14 dengan nilai kepadatan 1,17, kepadatan relatif 31,2% dan frekuensi kehadiran 33,33%, Jenis hewan Uret (Lepidiota stigma) berjumlah 1 dengan nilai kepadatan 0,08, kepadatan relatif 2,13% dan frekuensi kehadiran 8,33%.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh hasil pada luasan lahan 60 × 60 cm2 terdapat 9 unit lahan dan jenis hewan yang terdapat di lahan ini ialah Cacing Tanah (Lumbricana) berjumlah 2 dengan nilai kepadatan 0,22 , kepadatan relatif 25% dan frekuensi kehadiran 11,11%, Jenis hewan Semut Hitam (Monomorium minimum) berjumlah 2 dengan nilai kepadatan 0,22 , kepadatan relatif 25% dan frekuensi kehadiran 11,11% dan yang terakhir adalah hewan Uret (Lepidiota stigma) berjumlah 4 dengan nilai kepadatan 0,44, kepadatan relatif 50% dan frekuensi kehadiran 33,33%. Perhitungan kepadatan dilakukan dengan cara membagikan jumlah jenis dari suatu hewan hewan dengan dengan jumlah keseluruhan unit lahan (dengan ukuran lahan yang sama). Perhitungan kepadatan relatif dioperasikan dengan cara membagikan nilai kepadatan jenis hewan dengan nilai kepada jenis seluruh hewan (dengan ukuran lahan yang sama) dan perhitungan frekuensi kehadiran dioperasikan dengan cara membagikan banyaknya unit lahan yang terdapat suatu jenis hewan dengan jumlah seluruh unit lahan (dengan ukuran lahan yang sama).
Sampling hewan tanah yang dilakukan oleh Afdan menunjukan perbedaan hasil dari sampling pada luasan 60x60 cm dan 30x30 cm, pada 60x60 cm tidak ditemukan hewan sama sekali sedangkan pada luasan 30x30 cm terdapat 27 cacing tanah. Pada kasus Afdan ini area yang lebih kecil memiliki lebih banyak hewan daripada area yang lebih besar. Pada sampling yang dilakukan oleh Bintang, hasil dari luasan 60x60 cm dan 30x30cm sama baik jumlah maupun jenisnya. Pada sampling milik Hana, luasan 15x15 cm memiliki lebih banyak hewan dan jenisnya lebih beragam dari luasan 30x30cm. Tidak ditemukannya fauna tanah tersebut disebabkan karena kondisi tanah yang sangat kering dan tidak terdapat vegetasi di atasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Handayanto dan Hairiah (2009) yang menyatakan bahwa peran tumbuhan dalam mengatur rantai makanan pergerakan nutrisi dari satu jenis organisme ke jenis lainnya juga dijumpai pada permukaan tanah. Serasah tanaman (litter fall) dan tanaman mati menyumbangkan sisa tanaman yang sangat besar di permukaan tanah. Fauna tanah seperti Arthropoda dan cacing tanah meningkatkan efisiensi dekomposisi sisa tanaman tersebut dengan meningkatkan distribusi sisa makanan (Handayanto dan Hairiah, 2009). Selain itu Sugiyarto et al. (2007) berpendapat bahwa pada temperatur yang terlalu tinggi menyebabkan beberapa proses fisiologis makrofauna seperti aktivitas reproduksi, metabolisme, respirasi akan terganggu. Pada sampling yang dilakukan oleh Joy, hasil dari luasan 60x60 cm lebih banyak dari luasan 30x30cm. Sama seperti Bintang jenis tanah yang digunakan adalah tanah dengan tutupan vegetasi.
Konstansi hewan pada lahan 15 × 15 cm2 ialah Sumpil (Subulina octona) termasuk konstansi kategori Konstan. Konstansi pada hewan Lintah (Hirudinea) termasuk Absolut dan Konstansi pada hewan Semut Hitam (Monomorium minimum) adalah Absolut. Konstansi hewan pada lahan 30 × 30 cm2 adalah Cacing Tanah (Lumbricana) termasuk konstansi kategori Assesori, konstansi pada hewan Semut Hitam (Monomorium minimum) termasuk Assesori dan konstansi pada hewan Uret (Lepidiota stigma) termasuk Aksidental. Nilai konstansi seluruh jenis hewan pada lahan 60 × 60 cm2 adalah kategori Aksidental. Kategori Konstan artinya sering, Assesori artinya jarang, Aksidental artinya sangat jarang dan Absolut artinya sangat sering (Sukarsono, 2009).
Komposisi makrofauna tanah pada masing-masing lokasi penelitian diperoleh berdasarkan pengurutan nilai kepadatan relatif dari nilai tertinggi sampai yang terendah didapatkan dari komposisi spesies yang bervariasi. Bagi kehidupan makrofauna tanah diantaranya adalah suhu atau temperatur tanah, dan kadar air tanah. Banyak fauna tanah dengan terjadinya kenaikan temperatur khususnya hewan yang lebih besar seperti cacing tanah akan masuk ke lapisan tanah yang lebih dalam, yang lebih sesuai dan membangun lubang-lubang untuk tempat tinggal mereka. Suhu tanah merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kehadiran dan kepadatan organisme tanah. Dengan demikian suhu tanah menentukan tingkat dekomposisi material organik tanah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sugiyarto et al. (2007) pada temperatur yang terlalu tinggi menyebabkan beberapa proses fisiologis makrofauna seperti aktivitas reproduksi, metabolisme, respirasi akan terganggu.
Kadar air tanah sangat erat hubungannya dengan populasi makrofauna tanah. Hal ini dikarenakan tubuh makrofauna tanah mengandung air, oleh karena itu kondisi tanah yang kering dapat menyebabkan tubuh makrofauna tanah kehilangan air dan hal ini merupakan masalah yang besar bagi kelangsungan hidupnya. Kadar air dalam tanah berfungsi sebagai pelarut unsur hara dalam tanah sehingga dimungkinkan makrofauna tanah membutuhkan kadar air yang tinggi (Hakim et al., 1986).
Keberadaan dan aktivitas makrofauna tanah dapat meningkatkan aerasi, infiltrasi air, agregasi tanah, serta mendistribusikan bahan organik tanah sehingga diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan keanekaragaman makrofauna tanah (Njira & Nabwami, 2013). Makrofauna seperti cacing dan sejenisnya berperan dalam siklus energi dalam ekosistem. Makrofauna tanah berperan penting dalam meningkatkan kadar bahan organik tanah, umumnya kelimpahan makrofauna disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya tanaman penutup. Keberadaan fauna tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, salah satunya adalah adanya bahan organik dalam tanah. Keberadaan fauna dapat dijadikan parameter dari kualitas tanah, fauna tanah yang digunakan sebagai bioindikator kesuburan tanah tentunya memiliki jumlah yang relatif melimpah (Hanafiah, 2013).
Peran fauna tanah di lingkungan sebagai indikator bagi lingkungan seperti semut, karena semut memiliki korelasi yang kuat dengan beberapa variabel ekosistem yakni vegetasi, iklim mikro, tanah dan fauna tanah lainnya. Semut sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, perubahan iklim akan mengubah pola hidup semut dalam sebuah ekosistem sehingga semut akan tetap bertahan dan menyesuaikan diri salah satunya dengan cara berpindah mencari habitat yang baru dalam menghadapi tekanan lingkungan habitatnya. Adapun peran cacing tanah sebagai makrofauna tanah memainkan peran penting dalam ekosistem yang berhubungan dengan siklus hara dan aliran energi karena organisme ini melakukan proses pelapukan bahan organik dan akhirnya memberikan kontribusi pada faktor kesehatan tanah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kehadiran fauna pada lahan 15 × 15 cm dikategorikan absolut yang artinya sangat sering, kehadiran fauna pada lahan 30 × 30 cm dikategorikan Assesori yang berarti kehadirannya jarang dan kehadiran fauna pada lahan 60 × 60 cm dikategorikan Aksidental yang artinya kehadirannya sangat jarang. Fauna semut hitam dan cacing tanah dapat dijadikan bioindikator, keberadaan semut hitam yang absolut menandakan bahwa lahan yang dijadikan tempat tinggal tergolong baik. Komposisi fauna tanah dipengaruhi oleh suhu tanah dan kadar air tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim N, Nyakpa MY, Lubis AM, Nugroho SG, Dika A, GB Hong HH, Bailley. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Hanafiah, K.A. 2013. Dasar-Dasar Imu Tanah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Njira, Keston Oliver Willard & Nabwami, Janet. 2013. Soil Management Practices that Improve Soil Health: Elucidating their Implications on Biological Indicators. Journal of Animal & Plant Sciences. 18(2): 2750-2760.
Nurrohman E et al.2015.Keanekaragaman Makrofauna Tanah Di Kawasan Perkebunan Coklat (Theobroma cacao L.) Sebagai Bioindikator Kesuburan Tanah Dan Sumber Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia. 1(2):197-208.
Sugiyarto, Efendi M, Mahajoeno E, Sugito Y, Handayanto E, Agustina L, 2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik Tanaman Pada Intensitas Cahaya Berbeda. Biodiversitas. 7(4): 96-100.
Sukarsono. 2009. Pengantar Ekologi Hewan: Konsep, Perilaku, Psikologi, dan Komunikasi. Malang: UMM Press.
LAMPIRAN
Bintang
Afdan
Joy
Hana

Comments
Post a Comment