LAPORAN PRAKTIKUM KOMPOS
LAPORAN PRAKTIKUM
KOMPOS
Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Sata
Y. Srie Rahayu, M.Si.
Beata
Ratnawati. ST, M.Si.
Asisten Dosen :
Elva Febiyanti Faidah
Warohmah, A.Md.
Siska
Apriliyani, A.Md.
Oleh :
Afdan Firas Maula
Pasya J3M119006
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan atau
kotoran hewan yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat dan cair dan
dapat diperkaya dengan bahan mineral alami dan atau mikrobia yang bermanfaat
memperkaya hara, bahan organik tanah, dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah. Salah satu jenis pupuk organik adalah vermikompos.
Vermikompos adalah kompos yang diperoleh dari hasil perombakan bahan
organik yang dilakukan oleh cacing tanah. Menurut Suparno et al (2013) Vemikompos merupakan campuran kotoran cacing
tanah dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah, oleh karena itu
vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan dan memiliki
keunggulan tersendiri dibandingkan dengan kompos lain, keuntungan vermikompos
adalah prosesnya cepat dan kompos yang dihasilkan.
Adapun untuk mengetahui bagaimana pembuatan
kompos menggunakan cacing atau vermicomposting dan mengamati perkembangannya
maka dilakukanlah praktikum ini.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu untuk membuat kompos dengan bantuan cacing.
1.3 Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini yaitu 50 ekor cacing tanah tiap box,Media berupa kotoran kambing dan serasah (daun yang sudah lapuk), Box untuk tempat media dan Karung goni putih sebagai penutup.
1.4
Metode
Kerja
1.
media sebanyak ¾ volume box dengan perbandingan 1:1 untuk semua media
dalam box disiapkan dan dicampurkan.
2.
50 ekor cacing kedalam box yang sudah siap dimasukkan
3.
Ukur ph, suhu, dan kelembaban awal dan dicatat
4.
Amati pupuk tiap hari , dan dicatat perubahannya
5. Pupuk diaduk supaya rata dan dijaga
kelembabannya selama 1 minggu.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1
Hasil
Tabel Hasil Pengamatan
|
Hari ke- |
Indikator yang diamati |
|||
|
Bau |
Warna |
kelembaban |
Tekstur |
|
|
1 |
Sangat bau |
Coklat pekat |
Sangat lembab |
Belum terurai |
|
2 |
Sangat bau |
Coklat pekat |
Sangat lembab |
Belum terurai |
|
3 |
Sangat Bau |
Coklat pekat |
Sangat lembab |
Belum terurai |
|
4 |
Sangat Bau |
Coklat pekat |
Sangat lembab |
Belum terurai |
|
5 |
Bau |
Coklat kehitaman |
Sedikit lembab |
Mulai terurai |
|
6 |
Bau |
Coklat kehitaman |
Sedikit lembab |
Mulai terurai |
|
7 |
Bau |
Coklat kehitaman |
Sedikit lembab |
Mulai terurai |
|
8 |
Bau |
Coklat kehitaman |
Sedikit lembab |
Terurai kasar |
|
9 |
Bau |
Coklat kehitaman |
Mulai mengering |
Terurai kasar |
|
10 |
Bau |
Hitam |
Mulai mengering |
Terurai kasar |
|
11 |
Sedikit bau |
Hitam |
Mulai mengering |
Terurai kasar |
|
12 |
Sedikit bau |
Hitam |
Kering |
Terurai halus |
|
13 |
Sedikit bau |
Hitam |
Kering |
Terurai halus |
|
14 |
Sedikit bau |
Hitam |
kering |
Terurai halus |
2.2 Pembahasan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap
dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikrob dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap,
dan aerobik atau anaerobic. Sedangkan pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami
penguraian secara biologis, khususnya oleh mikrob-mikrob yang memanfaatkan
bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan
mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat.
Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang
cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Dalam
praktikum ini menggunakan kompos dengan media kotoran kambing dan serasah daun.
Pemilihan media ini didasarkan pada penelitian F. Widhi Mahatmanti et al (2011)
bahwa tekstur kotoran kambing yang khas, karena berbentuk butiran-butiran yang
agak sukar dipecah secara fisik sehingga sangat berpengaruh terhadap proses
dekomposisi dan proses penyediaan haranya dan pada penelitian Djukri (2005)
yang menyatakan serasah digunakan sebagai kompos karena kompos yang dihasilkan
memiliki pH netral.
Tahap
pembuatan kompos ini dimulai dengan menyiapkan media berupa kotoran kambing dan
serasah dengan perbandingan 1 : 1. Media tersebut dimasukkan ke dalam wadah
berupa ember. Setelah itu dimasukkan cacing sebagai pembantu proses
pengomposan. Selama 1 minggu pH,Suhu dan Kelembaban dicatat.perkembangan kompos
diamati sampai kompos dianggap sudah matang.
Berdasarkan
pengamatan proses pengomposan selama 2 minggu didapatkan kompos yang cukup
matang. Adapun 4 indikator yang diamati yaitu bau,warna,kelembaban dan tekstur.
Bau kompos diklasifikasikan menjadi sangat bau pada hari ke 1-4,Bau pada hari
ke 5-10,sedikit bau pada hari ke 11-14. Warna kompos diklasifikasikan menjadi
coklat pekat pada hari ke 1-4,coklat
kehitaman pada hari ke 5-9,hitam pada hari ke 10-14.kelembaban kompos
diklasifikasikan menjadi sangat lembab pada hari ke 1-4,sedikit lembab pada
hari ke 5-8,mulai mengering pada hari ke 9-11, kering pada hari ke 12-14.
Tekstur kompos diklasifikasikan menjadi belum terurai pada hari ke 1-4,mulai
terurai pada hari ke 5-7 , terurai kasar pada hari ke 8-11 , terurai halus pada
hari ke 12-14.
Adapun
ada beberapa factor yang mempengaruhi laju proses pengomposan menurut Dian Asri
Puspa Ratna (2017) yaitu C/N bahan baku,jenis dan ukuran bahan
baku,aerasi,kelembaban,suhu,mikroorganisme dan activator.ukuran bahan baku dan
kadar air merupakan salah satu factor keberhasilan proses pengomposan. Maka
pada praktikum kompos yang telah dilakukan diketahui bahan baku kotoran kambing
memiliki Pupuk Kotoran kambing
mengandung nilai rasio C/N sebesar 21,12% (Trisna Afriadi Muhammad ,2017). Untuk kelembaban dan
suhu diketahui berada pada tingkat sedang.
Cacing tanah
memiliki peran penting bagi kesuburan tanah, cacing menghancurkan bahan organic
sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur
dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah
sangat bermanfaat antara laian meningkatkan infiltrasi, memampatkan agregasi
tanah, mengangkut bahan organic ke bagian tanah yang lebih dalam meningkatkan
populasi mikroba yang menguntungkan tanaman . Cacing tanah dapat membantu dalam
sirkulasi unsur hara dalam tanah. Mobilitas cacing tanah dalam sistem tanah
berlangsung baik secara horizontal maupun vertikal. Mobilitas secara vertikal
menyebabkan terjadi sirkulasi unsur hara dari sisitem tanah bagian lebih dalam
ke sistem tanah bagian atas dan terjadi juga sebaliknya. Sirkulasi unsur hara
tersebut 9 sangat menguntungkan bagi memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman.
Tanah dengan populasi cacing tanah yang lebih banyak mempengaruhi terhadap
peningkatan ketersediaan P bagi tanaman. Selain itu juga terjadi peningkatan pH
tanah. Cacing tanah dapat membantu dalam proses dekomposisi bahan organik yang
ada dalam tanah. Proses dekomposisi tersebut akan dibebaskan berbagai unsur
hara yang menjadi lebih tersedia bagi tanaman. Selaras dengan penelitian Ea Kosman Anwar (2009) yang menyebutkan bahwa cacing tanah mempunyai peranan penting
dalam mengatur proses dekomposisi bahan organik, sehingga kehilangan hara akibat proses dekomposisi yang tidak
terkendali di dalam tanah dapat diminimalkan sehingga penggunaan C organik
tanah oleh mikroba tanah lebih efisien dan kelestarian fungsi bahan organik
dalam tanah dapat terjaga.
Adapun ciri kompos yang sudah matang dapat dilihat dari beberapa indikator
yaitu warna,bau,penyusutan,suhu, dan kadar air. Kompos yang sudah memiliki kematangnan yang sempurna
memiliki warna coklat kehitam-hitaman. Warna kompos yang seperti ini menyerupai
tanah sudah bisa langsung digunakan untuk media tanam. Kompos
yang sudah matang memiliki bau yang khas yaitu bau seperti tanah, harum dan
tidak beraroma tajam. Kompos akan mengalami penyusutan apabila
sudah matang sempurna, tingkat penyusutan kompos dari bahan mentahnya sekitar
20-40%. Penyusutan tersebut terjadi karena akan ada partikel-partikel yang
dilepas oleh bakteri pada saat proses fermentasi. Suhu
dari kompos yang sudah matang ketika mendekati suhu normal. Apabila suhu masih
tinggi atau di atas 50 derajat maka menandakan kompos tersebut masih mengalami
proses fermentasi. Kompos yang baik adalah kompos yang tidak
terlalu basah karena apabila masih terlalu basah akan susah melarutkan unsur
hara yang ada di kompos agar bisa tersalur ke tanaman. pupuk kompos sudah matang dapat dilihat dari kadar
airnya, berdasarkan SNI 19- 7030-2004 tentang standar kualitas kompos bahwa
batas maksimal kadar air kompos yang telah matang adalah 50 %.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembuatan kompos menggunakan bantuan cacing cukup
efektif karena cacing dapat menghancurkan bahan
organik
sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar EK.2009. Efektivitas
Cacing Tanah Pheretima hupiensis, Edrellus sp. dan Lumbricus sp. dalam Proses
Dekomposisi Bahan Organik. J. Tanah Trop. 14 (2) : 149-158.
Djukri.2005. Pengomposan
Dan Efek Kompos Serasah Daun Acasia Mangiam Z Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi
Kacang Tanah.Inotek.9 (2):189-203.
Mahatmanti FW,Lestari P.Wulandari RS. 2011.Pemanfaatan Kotoran Kambing
Sebagai Pupuk Kompos Untuk Meningkatkan kebersihan Lingkungan Di Kelurahan
Mangunsari Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang.ABDIMAS.15(2) : 75-80.
Muhammad TA,Zaman B,Purwono.2017.Pengaruh Penambahan Pupuk Kotoran Kambing Terhadap Hasil
Pengomposan Daun Kering Di Tpst Undip. Jurnal Teknik Lingkungan. 6(3):1-12.
Ratna DAP,Samudro G,Sumiyati S.2017. Pengaruh KadarAir Terhadap Proses
Pengomposan Sampah Organik Dengan Metode Takakura.Jurnal Teknik Mesin.6(Tidak
dipublikasikan):124-128.
Suparno.2013.Aplikasi
Vermikompos Pada Budidaya Organik Tanaman Ubijalar (Ipomoea batatas L.). Indonesian Green Technology Journal.2 (1) : 37-44.

Comments
Post a Comment